RSS

Tahun Hijriyah dan Masehi

06 Jan

tadi di daerah nilam tanjung perak surabaya saya melaksanakan ibadah sholat jum’at. saya tertarik dengan ceramah yang di bawakan oleh peng khotbah tadi, dan puncak dari khotbah yang di bawakan itu adalah do’a bersama untuk menyambut datang nya tahun baru 2012 (masehi). disini saya bertanya-tanya dan berpikir dengan otak manusia saya mengenai tahun masehi dan hijriyah, maka dari itu setelah jum’atan saya segera googling unutk mencari sumber sumbernya, ini yang saya dapat (baca sebagai pengetahuan)

DUA GERHANA MENGAWAL TAHUN MASEHI DAN HIJRIYAH

Oleh : Ibnu Zahid Abdo el-Moeid Rabu, 13 Muharrom 1431H./ 30 Desember 2009 M.
GERHANA BULAN
Tahun Hijriyah 1431 dan Masehi 2010 termasuk tahun yang istimewa karena saat permulaannya ditandai dengan terjadinya dua gerhana sekaligus, yaitu gerhana bulan dan matahari. Akan terjadi gerhana bulan sebagian(parsial) pada hari Jum’at Wage, 15 Muharrom 1431 H./ 01 Januari 2010 M. 15 hari kemudian terjadi gerhana matahari, tepatnya hari Jum’at Pon, 29 Muharrom 1431 H./ 15 Januari 2010 M.
Berdasarkan perhitungan hisab gerhana bulan sebagian(parsial) akan terjadi pada hari Jum’at Wage dinihari (baca, Kamis malam Jum’at), 15 Muharrom 1431 H./ 01 Januari 2010 M. Gerhana terjadi mulai pukul 01:53 WIB sampai pukul 02:53 WIB. Luas gerhana, ±1%.
Gerhana bulan ini meliputi seluruh dunia kecuali benua Amerika. Momen ini bisa disaksikan secara utuh dari wilayah Asia, Afrika dan Eropa, kecuali Afrika bagian barat. Dari Afrika bagian barat, awal gerhana tidak bisa dilihat karena pada saat awal gerhana, bulan masih dibawah ufuk timur(belum terbit), gerhana baru bisa dilihat pada saat menjelang berakhirnya gerhana. Sementara dari Australia dan Irian Barat gerhana hanya bisa dilihat pada awal gerhana, karena beberapa saat setelah mulai gerhana, bulan terbenam di ufuk barat.
Seluruh wilayah Indonesia, bisa menyaksikan momen gerhana ini secara utuh, mulai awal gerhana sampai akhir gerhana, kecuali Irian Barat yang hanya bisa menyaksikan awal gerhana saja, karena bulan keburu terbenam dan matahari pun mulai terbit dari ufuk timur.
Sholat gerhana disyari’atkan pertama kali pada tahun ke-5 hijrah, ketika terjadi gerhana bulan total yaitu malam Rabu 14 Jumadil Akhir 4 H. bertepatan dengan 20 Nopember 625 M.
Menurut Jumhurul Ulama’, sholat gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan hukumnya Sunnah Muakkadah, sunnah yang sangat ditekankan, seperti Sholat Hari Raya. Bahkan sebagian ulama’ berpendapat bahwa hukum sholat gerhana adalah Fardlu Kifayah seperti sholat jenazah.
Sholat gerhana dikerjakan dengan dua rokaat sebagaimana sholat sunnah biasa. Pada setiap rokaat dilakukan dua kali ruku’. Setelah membaca Al Fatihah dan surat, lalu ruku’ terus bangun I’tidal, lalu membaca Al-Fatihah dan surat lagi lalu ruku’ yang kedua, kemudian I’tidal lagi dengan thuma’ninah lalu melakukan sujud yg pertama, duduk antara dua sujud, lalu sujud yang kedua, kemudian bangkit berdiri untuk rokaat yang kedua. Pada rokaat yang kedua ini, ruku’ dilakukan dua kali seperti pada rokaat yang pertama. Kemudian diakhiri dengan tahiyat. Apabila kesulitan dengan cara tersebut maka bisa dikerjakan dua roka’at seperti sholat Shubuh, mengikuti mazhab Abu Hanifah.
Demi syi’arnya agama Islam maka marilah kita bersama-sama menghidupkan suasana gerhana tersebut dengan memperbanyak Takbir, Tachmid, Istighfar, mengeluarkan Shodaqoh serta melaksanakan sholat Khusuful Qomar. Dan kita bisa melaksanakan-nya secara berjama’ah baik di masjid maupun di musholla-musholla lalu ditutup dengan dua kali khutbah. Jika kita tidak bisa melaksanakannya secara berjama’ah maka bisa dikerjakan secara sendiri di rumah masing-masing walaupun tanpa khutbah.
Berikut ini kronologi dan illustrasi gerhana bulan dilihat dari Surabaya.
GERHANA MATAHARI
15 hari setelah gerhana bulan, tepatnya hari Jum’at Pon, 29 Muharrom 1431 H./ 15 Januari 2010 M. mulai pukul 05:14 GMT sampai 09:00 GMT. Insya Alloh akan terjadi Gerhana Matahari Cincin. Pusat tengah gerhana berada di tengah samudera Hindia, Lintang 01° 38′ LU, Bujur 69° 18′ BT.
Gerhana cincin ini meliputi wilayah Afrika dan Asia. Sementara Australia Eropa dan Amerika tidak mengalami gerhana sama sekali. Gerhana cincin bermula dari Afrika tengah, lalu melintasi Uganda, Kenya, Samudera Hindia, Srilangka, Myanmar, dan berakhir di China. Indonesia bagian barat serta negara di kawasan Asia dan Afrika lainnya hanya mengalami gerhana sebagian (tidak cincin).
Wilayah-wilayah di Indonesia yang bisa menyaksikan gerhana matahari ini adalah seluruh pulau Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi Utara dan pulau Jawa bagian barat. Sedangkan Jawa bagian timur dan kawasan Indonesia timur, Bali, Lombok, Nusa Tenggara, sebagian besar Sulawesi, Maluku dan Irian tidak bisa menyaksikan momen ini, termasuk Surabaya dan Madura. Kota-kota di Jawa Timur yang bisa menyaksikan gerhana matahari ini adalah Bojonegoro, Cepu, Ngawi, Tuban, dan Bawean. Selain dari kota-kota tidak bisa menyaksikan momen ini.

Sejarah Penanggalan Kalender Hijriyah

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (Bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya.

Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.

SEJARAH DAN PENETAPAN AWAL

Ketika Sayyina Umar bin khatab menjabat Kepala Negara mencapai tahun ke 5 beliau mendapat surat dari Sahabat Musa Al As’ari Gubernur Kuffah, adapun isi suratnya adalah sebagai berikut :

“KATABA MUSA AL AS’ARI ILA UMAR IBNUL khatab. INNAHU TAKTIINA MINKA KUTUBUN LAISA LAHA TAARIIKH.”

Artinya: Telah menulis surat Gubernur Musa Al As’ari kepada Kepala Negara Umar bin khatab. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya.

Kemudian Kholifah Umar bin khatab mengumpulkan para tokoh-tokoh dan Sahabat-Sahabat yang ada di Madinah.

“FAJAMAA’A UMAR AN NAASI LIL MUSYAAWAROTI”

Artinya: Maka mengumpulkan Umar bin khatab untuk mengadakan musyawarah.”

Didalam musyawarah itu membicarakan rencana akan membuat Tarikh atau kalender Islam. Dan didalam musyawarah muncul bermacam-macam perbedaan pendapat. Diantara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad saw.
  • Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasulullah.
  • Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Rasulullah di Isro Mi’roj kan .
  • Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad saw.
  • Sayyidina Ali krw. Berpendapat, sebaiknya kalender Islam dimulai dari tahun Hijriyahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah atau pisahnya negeri syirik ke negeri mukmin. Pada waktu itu Mekkah dinamakan Negeri Syirik, bumi syirik.

Akhirnya musyawarah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar Bin khatab sepakat memilih awal yang dijadikan kalender Islam adalah dimulai dari tahun Hijriyah nya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah. Kemudian kalender Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah.

Jadi adanya ditetapkan tahun Hijriyah itu dimulai dari Sayyina Umar bin khatab menjabat Kepala Negara setelah 5 tahun. Sebelum itu belum ada tahun Hijriyah baikpun jaman Rasulullah hidup maupun jaman Sahabat. Dan tahun Hijriyah mulai diberlakukan bertepatan dengan tahun 640M. Setelah tahun Hijriyah berjalan 5 tahun kemudian Sahabat Umar Bin khatab wafat.

( Keterangan ini diambil dari Kitab Tarikh Umam wal Muluk, ditulis oleh Muhammad bin Jarir At Thobari, yang dikenal dengan nama Tarikh Thobari. Kitab ini jumlahnya 12 jilid besar, setiap satu jilid tebalnya 250 halaman).

PERHITUNGAN

Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari)

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Nama-nama bulan dan lama hari dalam kalender hiriyah

No | Penanggalan Islam | Lama Hari
1 Muharram 30
2 Safar 29
3 Rabiul awal 30
4 Rabiul akhir 29
5 Jumadil awal 30
6 Jumadil akhir 29
7 Rajab 30
8 Sya’ban 29
9 Ramadhan 30
10 Syawal 29
11 Dzulkaidah 30
12 Dzulhijjah 29/(30)
Total 354/(355)
dan artikel menarik tentang tahun masehi silahkan baca juga

Tahun Baru Masehi: Sejarah Kelam Penghapusan Jejak Islam

 

Dalam beberapa hari ke depan, tahun 2009 akan segera berganti, dan tahun 2010 akan menjelang. Ini tahun baru Masehi, tentu saja, karena tahun baru Hijriyah telah terjadi satu pekan yang lalu. Bagi kita orang Islam, ada apa dengan tahun baru Masehi?

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

 

Perayaan Tahun Baru

Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.

Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu

Seperti kita ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

 

Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).

 

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!

 

Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun.

source: berbagai sumber

 
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: