RSS

Supersemar bukan Pelimpahan Kekuasaan (1)

17 Feb

 

Dr Soebandrio (85) adalah salah seorang saksi hidup peristiwa keluarnya Supersemar. Ketika itu ia menjadi wakil perdana menteri I (waperdam I) dan menteri luar negeri (1957-1966). Beberapa hari setelah Supersemar dikeluarkan, ia dan beberapa menteri lainnya yang dicurigai terlibat dalam peristiwa G-30-S/PKI ditangkap. Ia dijatuhi hukaman rnati oleh Mahkamah Milker Luar Biasa (Mahmilub) tahun 1966. Hukuman itu kemudian diubah men­jadi hukuman penjara seumur hidup. Setelah istrinya meninggal dunia, tahun 1974, Soebandrio menikah lagi dengan Sri Kusdyantinah, janda Kalonel Bambang Supeno.
Setelah 30 tahun mendekam di balik terali besi, pada tahun 1996 Tokoh PN1 ini dibebaskan, Saat ini dia tengah menulis otobiografinya, yang rencananya akan diterbitkan setelah Pemilu 1999.
Kini menutup diri terhadap wartawan. Menurut istrinya, Sri Kusdyantinah, sudah banyak wartawan yang ingin wawancara, tapi selalu ditolak. DeTAK beruntung berhasil mewawancarai Soebandrio di rumahnya. “Saya hanya mau diwawancarai DeTAK. Kalau wartawan lain saya tolak,” ujar Soebandrio dengan suara serak. Berikut petikan wawancara DeTAK dengan pria bertubuh pendek yang senja itu bercelana pendek.
Apakah Anda berada di Istana Bagor saat pembuatan Supersemar tanggal 11 Maret 1966?
Ya.
Siapa saja yang berada di Istana Bogor saat itu?
Bung Karno, saya, Chaerul Saleh (Waperdam), Mayjen Basuki Rahmat (Menteri Veteran), Brigjen M. Jusuf (Menteri Perindustrian Ringan), dan Brigjen Amirmachmud (Pangdam V Jaya).
Itu di ruang utama?
Ya, ya.
Anda sempat berbicara dengan ketiga jenderal itu?
Ya. Wong, mereka itu teman, Wong kumpul, ya ngomong. Gimana sih, Anda? Mereka itu teman sendiri.
Bagaimana suasananya waktu itu?
Baik, baik.
Tapi, kabarnya suasananya waktu itu tegang?
Enggak. Ngapain tegang?
Benarkah ada yang menodong Bung Karno pakai pistol?
Enggak ada. Yang penting kita percaya ketiga jenderal itu teman kita sendiri. Oke, ya? Cukup, ya?
Kabarnya Supersemar itu dua halaman?
Ya, ya, memang dua halaman.
Tetapi, mengapa yang beredar secara resmi hanya satu hala­man?
Enggak tahu saya. Setahu saya ada dua halaman. Saya enggak tahu kenapa kemudian menjadi satu halaman. Saya enggak tahu mengapa ya sampai begitu.
Konon, di halaman dua di alinea terakhir tertulis kalimat “sete-lah keadaan terkendali Supersemar diserahkan kembali kepada Presiden Soekarno’. Apakah benar ada kata-kata seperti itu?
Ya, ya, ada, ada itu.
Tapi, mengapa dalam Supersemar yang resmi beredar kata-kata itu, tidak ada? Dihilangkan?
Ya, saya enggak tahu, kenapa dihilangkan. Tapi, yang pasti kata-kata itu memang ada. Saya enggak tahu kemudian kok dihilangkan. Kenapa dihilangkan, kok nanya ke saya?
Anda ikut mengoreksi?
Ndak, ndak, bukan ngoreksi. Misalnya begini, ada yang kebanyakan huruf ‘s’, itu kita betulin. Hanya yang begituan saja.
Siapa saja yang membaca naskah Supersemar itu?
Semuanya, yaitu saya, Chaerul Saleh, Amirmachmud, Basuki Rachmat, dan Jusuf. Sejak naskah itu dibikin dan selesai diketik. Bung Karno menyuruh kita membacanya. Kita disuruh mana yang setuju dan mana yang tidak setuju.
Anda setuju?
Ya setuju, semua setuju. Gimana sin you ini? Gimana mau enggak setuju? Wong yang bikin Bung Karno, kita semua setuju. Lalu di situ Bung Karno tanda tangan.
Anda tahu siapa yang mengetik naskah Supersemar?
Ya, orang Istana.
Maksud Anda Istana Bogor?
Ya, ya.
Siapa namanya?
Ndak tahu. Di sana kan banyak staf. Bung Karno kan banyak stafnya. Dia tinggal menyuruh ketik ini.
Anda menyaksikan Bung Karno menandatangani Supersemar?
Ya, ya.
Sekitar pukul berapa waktu itu?
Ya, malam. Sekitar habis Isya lah.
Versi resmi pemerintah menyebutkan, Basuki Rahmat, M. Jusuf, dan Amirmachmud setelah mendapat Supersemar kembali ke Jakarta. Tapi ada versi Iain yang menyebutkan, mereka meng-inap semalam di Istana Bogor. Mana yang benar?
Mereka langsung pulang ke Jakarta, lapor kepada Pak Harto. Sudan, jangan banyak tanya-tanya. Saya kasihan sama Anda, tapi enggak apa saya menjelaskan ini, saya enggak keberatan. Saya eng­gak mau kalau diwawancarai wartawan lain. Belum waktunya.
Apakah Supersemar itu pelimpahan kekuasaan dan Bung Karno kepada Soeharto?
Tidak begitu. Yang sebenarnya begini. Supersemar itu bukan pelimpahan kekuasaan. Supersemar itu diserahkan ke Pak Harto.
Kalau sudah aman, diserahkan kembali ke Bung Karno. Jadi, Supersemar itu bukan penyerahan kekuasaan dari Bung Karno ke Pak Harto. Sudah, jangan tanya lagi. Nanti Anda menanyakan saya tidur di mana?
Jadi, itu hanya berkaitan dengan pemulihan keamanan?
Ya, ya. Ini penting untuk meluruskan sejarah.
Waktu itu ada Bu Hartini?
Enggak ada di situ. Bu Hartini tempatnya lain. Sudah, sudah, ja­ngan nanya lagi.
Apakah waktu itu Bu Hartini tinggal di paviliun?
Anu…, di sana banyak paviliunnya. Sudah, sudah, jangan nanya lagi. Oke?
Sumber : E-Book MISTERI SUPERSEMAR – Eros Djarot, dkk

 

 
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: