RSS

Supersemar bukan Pelimpahan Kekuasaan (2)

17 Feb
baca dulu

Supersemar bukan Pelimpahan Kekuasaan (1)

Wawancara dengan Ali Ebram, Staf asisten I Intelijen Resimen Cakrabirawa

Dialah orang yang mengetik naskah Supersemar





“Melihat Tingkah Amirmachmud …, Saya Ingin Merogoh Pistol”

Selama lima tahun (1962-1967) Ali Ebram menjadi staf Asisten I Intelijen Resimen Cakrabirawa. Sebelumnya, pria kelahiran Solo yang oleh Bung Karno dipanggil “Kriminil” tersebut per-nah menjadi prajurit Banteng Raiders di Semarang, yang saat itu Soeharto komandannya. Namun, karier militernya tamat ketika tanpa alasan yang jelas dia ditangkap tahun 1967, kemudian dipenjara sela­ma 12 tahun tanpa proses peradilan. Setelah keluar dari penjara, Ali sering diancam teror agar tidak membuka mulut seputar peristiwa G-30-S dan SP 11 Maret. Beberapa bulan lalu, Ali datang ke rumah Soeharto untuk bersilaturahmi. “Dia kan bekas atasan saya. Waktu itu saya diberi uang untuk memperbaiki makam istri saya di Solo,” ungkap Ali. Sebelum bertemu Soeharto, pria yang kini berusia 71 tahun itu sempat diundang salah seorang pejabat tinggi Setneg untuk mencarikan naskah asli SP 11 Maret dengan imbalan Rp 1 miliar. Lebih dari 30 tahun, Ali memang berdiam diri soal SP 11 Maret.
Menurutnya, kini adalah saatnya untuk mengungkap peristiwa lahirnya SP 11 Maret. “Biarlah nanti saya ditembak atau… Pokoknya, saya Iillahita’ala saja. Saya tidak punya maksud apa-apa,” katanya.
Berikut wawancara DeTAK dengan Ali Ebram, Senin 22 Februari dan Sabtu, 27 Februari 1999, di rumahnya.
Bisa diceritakan kegiatan Anda pada 11 Maret 1966?
Pagi i!u dari Bogor, Bung Karno berangkat ke Jakarta. Hari Jumat itu ada rapat kabinet 100 menteri di Istana. Bung Karno berangkat dengan menggunakan helikopter. Sedangkan saya sendiri lewat jalan darat, begitu heli mengudara.
Malam hari sebelum sidang kabinet, banyak menteri bermalam di Istana Merdeka. Apa ada instraksi dari Presiden?
Tidak ada instruksi. Lho, itu kan mereka mendekat ke Istana kare-na di luar banyak demonstrasi. Jadi, biar tidak terlambat saja.
Apa betui ada tentara liar?     

Iya, memang. Bung Karno mendadak meninggalkan istana karena ada pasukan liar yang akan menyerbu. Bung Karno memutuskan untuk terbang ke Istana Bogor. Ketika mesin heli mulai menderu, saya segera menyusul berangkat ke Bogor dengan menggunakan mobil. Sebenarnya (pasukan itu) bukan liar, hanya mereka tak pakai tanda-tanda pengenal. Tapi banyak yang tahu itu pasukan Kostrad.
Berarti Kemal Idris yang waktu itu Kaskostrad tahu?
Tahu bener. Makanya ketika ketemu, saya bilang, “Hai, Jenderal, Anda kok pakaiannya baru sekarang?” Dia marah-marah dengan saya. “Kamu dobol, nek ngomong nyakiti ati.”
“Lho, pakaian baru kok sakit,” saya bilang begitu. “Ya, ngerti aku maksudnya,” katanya.
Pukul berapa Anda sampai di Istana Bogor?
Perjalanannya satu jam lebih.
Bung Karno sampai pukul berapa?
Kalau menurut radio, pukul setengah dua belas sudah sampai. Kalau naik helikopter, dari Jakarta ke Istana Bogor itu sekitar 10 menit.
Lantas Soebandrio naik apa?
Naik heli dengan Pak Chaerul Saleh. Bapak itu dengan heli yang besar, yang berada di lapangan yang sekarang Monas itu. Sedang Pak Chaerul berangkatnya dengan heli di dalam istana. Mereka berdua
(Soebandrio dan Chaerul —red) itu takut. Takut mau ditembak. Dha mbingungi itu (pada bingung). Tapi kalau Pak Chaerul almarhum, sih, tenang. Bandrio itu kan penakut.
Sesampai di Bogor; kejadian apa saja yang Anda lihat?
Begitu saya datang, tak lama pos jaga lapor.
“Pak, ini ada jenderal mau masuk.” Saya bilang, “Ya sudah, biarkan masuk.” Saya ini dianggap taek-taek kok oleh mereka, ketiga jenderal itu, Pak Basoeki Rachmat, Amir (Amirmachmud -red), dan M. Jusuf. Yang menemui pertama kan saya.
Saya tanya, “Mau apa, Pak?”
“Saya mau ketemu Sabur (Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa -red).” Lalu saya bilang, “Harap lapor Posko dulu!”
“Enggak perlu, saya mau ketemu Sabur.”
“Ya sudah, silakan ketemu, itu rumahnya di belakang.”
Yang jawab itu siapa?
Amirmachmud.
Apa (iga jenderal itu satu mobil?
Waduh, saya kok enggak ingat persis, ya. Kalau enggak salah dua mobil.
Tapi datangnya bersamaan?
lya. Satu datang, lalu disusul di belakangnya. Selisih waktunya tak jauh. Ketiga jenderal itu ketemu Sabur. Oleh Sabur dilaporkan ke Bapak (Bung Karno -red), dan mereka dipersilakan masuk paviliun tempat Bu Hartini. Ketiga jenderal itu akhirnya diajak masuk. Saya kemudian dipanggil Sabur. “Kamu ditimbali Bapak (Kamu dipanggil Bapak),” kata Sabur. Saya ikut masuk tapi diam saja. Mereka itu ngomong antara lain, “Pak, berikan perintah pada Soeharto biar aman.” Amirmachmud yang ngotot agar Bapak membuat surat untuk Soeharto. Pembicaraan cukup lama.
Amir yang banyak bicara. “Sudah, Bapak bikin saja!” kata Amir sambil berdiri. Padahal Bung Kamo hanya duduk dengan kepala bersandar pada kursi. Saya marah, “Hee, yang sopan, dong, Jenderal!” Eh, saya justru dimarahi Bapak. Saya dijawil dan diajak masuk ke belakang. Pipi saya ditempeleng. “Kowe buntutku ojo melu-melu! Kowe meneng wae (Kamu itu pembantuku, jangan ikut-ikut! Kamu diam saja!)!
” Saya diam saja. Setelah dimarahi itu saya langsung keluar dari paviliun, dan kembali ke pos jaga. Saya masih marah. Bukan marah pada Bapak karena ditempeleng, tapi marah melihat Amirmachmud. Waktu melihat tingkah Amir itu, rasanya sudah ingin merogoh pistol saja. Kalau tidak ada Bapak, enggak tahu apa yang terjadi.
Jadi, yang paling aktif bicara Amirmachmud?
Ya. Juru bicaranya Amirmachmud. Yang pasif itu kan Mas Basoeki Rachmat. Kalau Pak Jusuf masih ngegong-ngegongi.
Apa bisa dikatakan ada pemaksaan?
Dikatakan paksa? Gimana, ya? Tapi tindakannya itu… apa ya…, ada penekanan begitulah. Contohnya, “Udah deh, Bapak itu masa tidak percaya sama Angkatan Darat?”
Bu Hartini ada di tempat itu?
Ada.
Jadi, dia tahu ada tiga jenderal?
Ya, tahu dong. Tapi Bu Hartini di belakang, di dapur, tidak ikut menemui ketiga jenderal itu.
Melihat sikap Amir, bagaimana reaksi Bung Karno?
Bapak itu enggak pernah mau marah-marahi orang. Justru kami-kami yang di sekitarnya yang sering kena marah. Saya atau Mangil itu ibaratnya tempolong. Tahu tempolong? Itu punya orang Jawa tempat untuk menampung ludah. Ibaratnya semua makian atau ungkapan marah pasti jatuh ke kami. Bapak itu kalau bicara kepada kami se-ringkali sengak dan nyakiti hati. Tapi kami ini sudah biasa. Sudah kebal. Karena, tahu, apa yang terlontar dari Bapak itu hanya ungkap­an emosi sesaat. Bapak itu kalau marah bisa keras. Tapi kalau sudah balik kanan, berarti sudah selesai marahnya Sesudah itu, biasanya kembali tertawa-tawa dan menyapa kami lagi.
Jadi, Anda tidak tahu pembicaraan selanjutnya?
Tidak. Lama mereka bicara sekitar dua jam. Tahu-tahu Sabur panggil saya. Dia minta saya membantu mengetik. Lha, saya kan tahu diri. Saya itu orang pasukan, masa disuruh buat layang (surat)? “Saya tidak bisa ngetik,” saya biiang. Tapi Sabur memaksa. “Sudahlah, ikut saja. Bantu saya.” Teres saya disuruh can blangko surat yang berkcp kepresidenan. “Lho, di Jakarta,  dong!” balas saya. Sabur jawab,
“Sudah, cari saja!” Blangko itu yang kuasa kan Pak Jamin. Akhirnya dapat, itu sekitar pukul 15.00. Kami berdua masuk kamar pribadi Bapak. Sementara tiga jenderal menunggu di ruang tamu.
Siapa yang mengetik?
Saya, sedang Sabur duduk di samping saya. Bung Karno sendiri berdiri mondar-mandir sembari mendikte. Bapak waktu itu tidak pakai baju kebesaran. Baju santai, celana dan tidak pakai peci.
Bagaimana perasaan Anda ketika mengetik?
Ndredeg (gemetar) saya.
Kenapa Anda yang dipanggil Sabur? Apakah karena Anda orang kepercayaannya?
Kalau dibilang kepercayaan, ya bukan. Tapi Pak Sabur itu, kalau ada hal-hal yang rahasia, biasanya manggil saya. Waktu itu dia dan pavili­un Bu Hartini biiang rene (ke sini) sambil memberikan isyarat tangan. Saya jawab, “Apa?” Terus Sabur biiang, “Rene dobol (ke sini siaian).”
Apakah yang ada waktu itu hanya Anda sendiri?
Tidak, ada beberapa orang.
Apakah Mangil ada di sana?
Ya, waktu itu Mangil ada. Kalau enggak salah dia ada di ruang agak depan. Kan waktu itu Sabur minta saya untuk bawa mesin ketik. Saya bawa mesin ketik itu lewat pintu belakang.
Apakah Soebandrio dan Chaerul Saleh menemani Bung Karno dan tiga jenderal tadi?
Oh, enggak ada di ruang itu.
Tapi kan sejarah mencatat mereka ada di situ?
Ya, supaya diperkuat bahwa mereka menyetujui. Pak Bandrio dan Pak Chairul Saleh memang waktu itu ada di istana. Tapi mereka tidak di situ (di paviliun tempat Bu Hartini dan Bung Karno -red). Pak Bandrio dan Pak Chaerul ada di gedung yang letaknya di pinggir pagan Mereka tidak tahu. Itu karangan kalau dibilang mereka tahu. Sedang Pak Leimena sendiri meneruskan memimpin sidang kabinet. You boleh tanya sama Bandrio.
Kira-kira mereka tahu kedatangan tiga jenderal itu?
Wah, saya tidak tahu. Tapi malamnya mungkin tahu. Kan bisa saja mereka diberi tahu angota Cakrabirawa.
Jadi, SP 11 Maret yang mengonsep Bung Karno sendiri?
Iya.
Anda masih ingat apa yang Anda ketik?
Wah… Pokok-pokoknya saja yang saya ingat. Ada disebut ajaran, koordinasi, terus laporan.
Ada berapa poin?
Ada empat poin. Soal keluarga, melindungi keluarga yang tidak ada. Yang keempat itu memberi laporan.
Berapa lama proses pengetikan itu?
Sekarang kalau orang enggak biasa ngetik terus diperintah ngetik, bisa dikira-kira berapa lama? Ngetiknya sambil ndredeg (gemetar). Sebelum mulai, saya bilang sama Bapak, “Pak, saya mohon ampun kesesa (Pak, saya mohon tidak tergesa-gesa).”
Bung Karno membawa konsep?
Enggak. Ngomong saja. Karena tidak pernah mengetik surat resmi kepresidenan, saya dan Sabur sempat kebingungan mau pakai spasi berapa. Kami bongkar-bongkar. mencari surat-surat lama untuk dijadikan contoh. Akhimya ketahuan. Saya dan Sabur sepakat memakai spasi dua. Bung Karno lalu mendikte. Sebelum tempat tanda tangan, kotanya diketik di Bogor. Terus di bawah tanda tangan ada kode pengetik. Di situ ada singkatan nama saya. Pakai inisial nama tua saya, YD (nama tua, Yosodiningrat). Setiap surat resmi presiden waktu itu, selalu di akhimya ada inisial pengetik. Ngetiknya ya pelan-pelan, satu-satu. Belakangan saya diberi tahu teman-teman bahwa dalam SP 11 yang dikeluarkan resmi, tidak ada lagi inisial itu. Ya, biar.
Bagaimana ekspresi Bung Karno waktu mendikte?
Saya ndak berani melihat Bapak. Kalau beliau perkirakan kalimat yang diucapkan sudah diketik, baru tanya, “Uwis (sudah)?” Sudan, Pak. Tek-tek-tek… “Uwisl” Sudah, Pak. Tek-tek-tek…
Ada berapa lembar SP 11 Maret itu?
Dua halaman. Enggak muat kalau cuma satu halaman. Spasinya itu berapa? Bapak itu orangnya correct. Bung Karno itu orangnya cor­rect. Jangan main-main sama beliau.
Waktu itu kan kertas pertamanya enggak cukup. Sudah mau habis. “Pak, kertasnya hampir habis,”  kata saya. “Wis, dijembeng wae (Sudah, dimolorkan saja)!”
 kata Bung Karno. Lalu kami masukkan kertas kedua. Lama pengetikan satu jam lebih. Begitu selesai, saya serahkan Sabur. Kemudian dibawa Bapak ke ruang tamu. Itu dibaca Bapak lama sekali sambil merenung. Bapak kan masih ragu. Diam. Begitu Bapak bilang, “Pulpen!”, saya tinggal. Saya ke luar dari ruang itu menuju ke rumah komando. Tapi saya masih sempat dengar Amirmachmud bilang, “Iya, Bapak tanda tangan saja. Kenapa sulit-sulit!”
Kenapa Anda meninggalkan ruangan?
Maksud saya itu, supaya saya… (Tiba-tiba wajahnya memerah, air matanya menetes. Kata-katanya terputus-putus.)… di akhirat tidak tanggung jawab. Saya hanya mengamankan beliau saja. Saya di akhi­rat enggak bertanggung jawab. Saya saat itu nangis. Sekarang pun saya nangis. Saya dipesan benar oleh Bung Karno, “Ojo nielu-melu! Menengo wae terns (Jangan ikut-ikut, diam saja terus)! Ada saat-nya…” Oalah, sekarang diam saja diancam terus, kok.
Anda mengatakan tak pernah mengetik. Apakah ada kesalahan-kesalahan?
ltulah anehnya. Enggak ada salah itu. Sepertinya ada yang mem-bimbing. Biarpun pelan-pelaa, ternyata semua berjalan lancar. Mungkin karena sangat pelan-pelan, ya? Cuma kadang ya misalnya ada huruf “s” yang dobel.
Apakah dipasang karbon?
Ya, harus dikarbon, dong. Tapi lembar salinan atau arsipnya saya tidak tahu. Saya kan keluar lebih dulu. Mungkin yang lebih tahu Sabur. Atau Pak Jamin, sekretaris kabinet Presiden.
Bung Karno tanda tangan?
Saya ndak tahu. Kan saya keluar. Tapi beberapa waktu sebelum SP 11 itu, Bapak pernah bilang, “Hen, Bapak wis gak disenengi rakyat. Bapak arep leren (Bapak sudah tidak disenangi rakyat. Bapak mau berhenti.).” Mungkin itu firasatnya Bapak.
Setelah Anda keluar, apakah obrolan Bung Karno dengan tiga jenderal masih berlangsung?
Setelah itu Bapak mungkin langsung sare (tidur). Tapi enggak tahu ya, wong saya sudah enggak ngurus lagi.

Sumber : E-Book MISTERI SUPERSEMAR – Eros Djarot, dkk

 
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: